• Imagen 1 Apa yang kamu pilih:
    - Harapan.
    - Cita-cita. Atau
    - Pilihan Hidup.
  • Imagen 2 Chanans's Lord
    My Blog Partner
  • Imagen 3 PLATO SAY
    Orang yang BIJAKSANA berbicara karena ada sesuatu yang DIBICARAKAN. Orang yang TOLOL berbicara karena ia merasa harus MENGATAKAN sesuatu.
  • Imagen 3 VISIT US
    And Enjoy
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Anoreksia Nervosa

On 0 komentar

Anoreksia nervosa (AN) adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Pencitraan diri pada penderita AN dipengaruhi oleh bias kognitif (pola penyimpangan dalam menilai suatu situasi) dan mempengaruhi cara seseorang dalam berpikir serta mengevaluasi tubuh dan makanannya. AN merupakan sebuah penyakit kompleks yang melibatkan komponen psikologikal, sosiologikal, dan fisiologikal, pada penderitanya ditemukan peningkatan rasio enzim hati ALT dan GGT, hingga disfungsi hati akut pada tingkat lanjut.

Seseorang yang menderita AN disebut sebagai anoreksik atau (lebih tidak umum) anorektik. Istilah ini sering kali namun tidak benar disingkat menjadi anorexia, yang berarti gejala medis kehilangan nafsu makan.

Anorektik dapat juga menunjuk ke obat penahan nafsu.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anoreksia_nervosa

Read more ...»

Hakikat Guru dan Anak Didik

On 0 komentar

Hakikat Guru

Antara Guru Dengan Pendidik
Guru juga dapat diistilahkan dengan istilah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di permukaan bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.

Meskipun istilah guru disamakan dengan istilah pendidik, tetapi antara keduanya memiliki perbedaan. Istilah guru lebih sempit daripada pendidik, istilah guru sering dipakai di lingkungan pendidikan formal, artinya guru adalah orang dewasa yang bertugas mendidik anak didik dalam suatu lembaga formal seperti sekolah, apabila jam sekolah telah berakhir atau anak didik telah lulus dari sekolah tempat dia menimba ilmu istilah guru ada kemungkinan tidak ada lagi atau hilang, sedangkan pendidik dipakai di lingkungan formal, informal maupun nonformal, artinya orang dewasa yang mendidik anak didik di manapun pendidik itu berada tidak dibatasi ruang dan waktu.

Tugas Pendidik
Tugas seorang pendidik adalah sebagai berikut :
  1. Membimbing si terdidik. Mencari pengenalan terhadapnya mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat dan sebagainya.
  2. Menciptakan situasi pendidikan. Situasi pendidikan yaitu suatu keadaan di mana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan dengan hasil yang memuaskan.
Selain apa yang terdapat di atas tugas seorang pendidik atau guru harus memiliki wawasan yang luas di bidang pengetahuan baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama, pengalaman dan lain sebagainya. Seorang pendidik atau guru juga harus sering berintrosfeksi karena seorang pendidik juga manusia yang memiliki sifit-sifat yang tidak sempurna.

Hakikat Anak Didik

Pentingnya Pendidikan Bagi Anak
Anak adalah merupakan amanat yang dipercayakan kepada ibu bapaknya. Hatinya yang masih murni itu merupakan amanat yang sangat berharga, sederhana, dan bersih dari ukiran dan gambaran apapun. Ia dapat menerima setiap ukiran yang digoreskan padanya, dan ia akan condong ke arah mana ia kita condongkan. (Ahmad Sjalabi. 1970 ; 284-285).

Anak bagaikan selembar kertas putih polos yang masih kosong, tergantung orang tuanya ingin menjadikan seperti apa anak tersebut, apabila kita ingin anak tersebut menjadi anak yang baik pastilah harus kita didik dengan baik pula begitu pula sebaliknya. Karena itulah betapa pentinya pendidikan bagi seorang anak.

Anak yang berpendidikan pastilah berbeda tingkah lakunya dengan anak yang tak berpendidikan baik dari segi kognitif, afektif maupun spikomotorik. Oleh karena itu, anak perlu mendapat bimbingan dari orang dewasa agar pola tingkah lakunya berubah, dalam hal ini adalah tugas pendidik atau guru dan pendidik yang pertama dan utama adalah orang tua.
Keharusan adanya pendidikan bagi anak tersebut akan lebih nyata apabila mengamati kemampuan atau perkembangan anak sesudah dilahirkan oleh ibunya sampai mencapai kedewasaannya. Untuk mendapatkan pengetahuan, kecakapan, keaktifan dan kemampuan maka anak perlu mendapatkan pendidikan dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atau pendidik.

Menurut Imam Al-Ghazali, anak adalah amanah Allah dan harus dijaga dan dididik untuk mencapai keutamaan dalam hidup dan mendekatkan diri kepada Allah. Semua bayi yang dilahirkan ke dunia ini, bagai sebuah mutiara yang belum diukir dan belum berbentuk, tetapi amat bernilai tinggi. Maka kedua orang tuanyalah yang akan mengukir dan membentuknya menjadi mutiara yang berkualitas tinggi dan disenangi semua orang. Maka ketergantungan anak kepada pendidiknya termasuk kepada kedua orang tuanya, tampak sekali. Ketergantungan ini hendaknya dikurangi secara bertahap sampai akil balig.

Dasar-Dasar Kebutuhan Anak untuk Mendapat Pendidikan
Secara kodrati, anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap anak yang hidup di dunia ini. Dalam hal ini, keharusan mendapat pendidikan itu jika diamati lebih jauh sebenarnya mengandung aspek-aspek kepentingan yang antara lain dapar dikemukakan sebagai berikut :
Aspek Paedagogis
Dalam aspek ini, para ahli didik memandang manusia sebagai animal educandum : makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam kenyataannya manusia dapat dikategorikan, sebagai animal, artinya binatang yang dapat dididik. Sedangkan binatang pada umumnya tidak dapat dididik, melainkan hanya dilatih secara dressur. Artinya latihan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya statis, tidak berubah. Adapun manusia dengan potensi yang dimilikinya dapat dididik dan dikembangkan ke arah yang diciptakan, setaraf dengan kemampuan yang dimilikinya.

Aspek Sosiologis dan Kultural
Menurut ahli sosiologi, pada prinsipnya manusia adalah moscius, yaitu makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau yang memiliki insting untuk hidup bermasyarakat.

Apabila manusia sebagai makhluk sosial itu berkembang, maka berarti merupakan makhluk yang berkebudayaan, baik moral maupun material. Di antara satu insting manusia adalah adanya kecenderungan mempertahankan segala apa yang dimilikinya, termasuk kebudayaan. Dan transmisi (pemindahan dan penyaluran serta pengoperan) kebudayaan kepada generasi yang akan menggantikan di masa mendatang.

Aspek Tauhid
Manusia adalah makhluk yang berketuhanan,yang menurut istilah ahli disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut juga homoreligious artinya makhluk yang beragama. Di dalam jiwa terdapat insting yang disebut insting religious atau garizah diniyiah (insting percaya pada agama). ltulah sebabnya, tanpa melalui proses pendidikan insting religious atau garizah diniyah tersebut tidak mungkin dapat berkembang secara wajar. Dengan demikian, pendidikan keagamaan mutlak diperlukan untuk mengembangkan insting relegious atau garizah diniyah tersebut.

Referensi:
  • Drs. H. Hamdani Ihsan, Drs. H. A. Fuad Ihsan. Filsafat Pendidikan Islam. Pustaka Setia. Bandung. 1998.
  • Prof. Dr. Ahmad Sjalabi. Sejarah Pendidikan Islam. Bulan Bintang. Jakarta. 1973.
Read more ...»

Periodesasi Perkembangan Hadits

On 0 komentar

Hadits periode I (Masa Rasulullah SAW)
Semasa rasulullah saw masih hidup, para sahabat dapat bergaul dengan beliau secara bebas. Para shabat bergaul bersama nabi dirumah, di mesjid, di pasar, di jalan, dalam musyafir, dan tempat-tempat lainnya.

Seluruh perbuatan Nabi diucapkan dan tindak tanduk beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak gerik beliau mereka jadikan pedoman hidup mereka. Para sahabat menerima hadits (syari’at) dari Rasulullah SAW adakalanya secara langsung, yakni mereka langsung mendengar sendiri dari Nabi, baik karena ada sesuatu soal yang diajukan oleh seseorang lalu Nabi Menjawabnya, ataupun Nabi sendiri yang memulai pembicaraannya, tetapi adakalanya mereka menerima secara tidak langsung, yaitu mereka menerima dari sesama sahabat yang telah menerima dari Nabi, atau mereka menyuruh seseorang untuk bertanya kepada Nabi jika mereka sendiri malu bertanya.

Diantara para sahabat yang banyak menerima pelajaran dari Nabi SAW, antara lain :
  1. Yang mula-mula masuk Islam yang disebut “As-Sabiqunal Awwalun”, seperti Khulafaur Rasyidin dan Abdullah ibnu Mas’ud.
  2. Yang selalu berada di samping Nabi dan bersungguh-sungguh menghafalnya, seperti Abu Hurairah, dan yang mencatat seperti Abdullah Amr ibnu Ash.
  3. Yang lama hidupnya sesudah Nabi, sehingga dapat menerima hadits dari sesama sahabat, seperti Anas bin Malik dan Abdullah ibnu Abbas.
  4. Yang erat hubungannya dengan Nabi, yaitu Ummahatul Mu’minin seperti Sayyidatina Aisyah binti Abu Bakar r. a dan Ummu Salamah.
Hadits pada periode II (Masa Khulafaur Rasyidin 10 - 40 H)
Pada waktu khalifah abu bakar, periwayatan hadis belum begitu di perluas. Karena beliau-beliau ini mengerahkan minat umat (shahabat) untuk menyebarkan al-quran dan memerintahkan kepada para shahabat untuk berhati-hati dalam menerima riwayat. Perkembangan hadis dan menyebarkan riwayat yang terjadi pada masa sesudah abu bakar dan umar yaitu pada masa khalifah utsaman dan ali r.a.

Cara sahabat Nabi dalam meriwayatkan hadits pada waktu itu ada dua, yaitu :
  1. Adakalanya dengan lafal asli yakni menurut lafal yang mereka terima dari Nabi SAW.
  2. Adakalanya dengan maknanya saja, yakni mereka meriwayatkan hanya dengan makna bukan dengan lafal aslinya, karena mereka dengar dari Nabi SAW.
Hadits pada periode III (Masa sahabat kecil dan tabi’in besar)
Sesudah masa Utsman dan Ali timbullah usaha yang lebih sungguh-sungguh untuk mencari dan menghafal hadits. Para sahabat menyebar ke masyarakat luas mengadakan perlawatan-perlawatan guna mencari dan mendapatkan hadits.

Dengan demikian meluasnya daerah terirorial hukum islam , para shahabatpun berpindah-pindah ketempat-tempat itu. Karena kota-kota dimana para shahabat bertempat tinggal merupakan tempat mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis, tempat mengeluarkan sarjana-sarjana tabi’in dalam bidang hadis.

Karena kota-kota di mana para sahabat bertempat tinggal merupakan tempat mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, tempat mengeluarkan sarjana-sarjana tabi’in dalam bidang hadits. Dalam periode ini terkenallah beberapa orang tokoh sahabat yang mendapat julukan “bendaharawan hadits” yakni orang-orang yang meriwayatkan lebih dari 1.000 hadits, di antaranya :
  1. Abu Hurairah, beliau seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, menurut keterangan ibnu Jauzi dalam “Talqih Fuhumi Ahlil Atsar”, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebanyak 5.364 buah, yang terdapat dalam musnad Ahmad bin Hanbal sebanyak 3.848 hadits.
  2. Abdullah ibnu Umar, beliau meriwayatkan 2.630 buah hadits.
  3. Anas bin Malik, beliau meriwayatkan 2.276 hadits, menurut Al-Kirmany sebanyak 2.236 buah.
  4. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddieq, beliau meriwayatkan 1.660 hadits.
  5. Abdullah ibnu Abbas, beliau meriwayatkan 1.540 hadits.
  6. Abu Sa’id Al-Khudry, beliau meriwayatkan 1.170 hadits.
Pada periode ketiga inilah timbulnya perpecahan dikalangan umat Islam karena soal Khalifah (Pemerintahan/Politik), sehingga terjadinya perang saudara antara Ali cs dengan Muawiyah cs yang membawa banyak korban dikalangan umat Islam.

Dengan terjadinya fitnah ini mengakibatkan terpecahnya umat Islam kepada 3 (tiga) golongan, yaitu :
Pertama : Khawarij, ialah golongan yang menentang Ali dan Muawiyah.
Kedua : Syi’ah, ialah golongan yang sangat fanatik dan bahkan mengkultuskan Ali.
Ketiga : Jumhur, ialah umat Islam yang tidak termasuk golongan I dan golongan II.

Hadits pada periode IV (Abad 11 H = 101 H - 200 H)
Kalau pada periode pertama hijriah, mulai dari zaman Rasul, masa Khalifah empat dan sebagian besar zaman Amawiyah, yakni hingga akhir abad pertama hijriah, hadits-hadits itu berpindah dari mulut kemulut.

Ulama pertama yang menghimpunkan dan membukukan hadits atas instruksi Khalifah ialah Abu Bakar Muhammad ibnu Ubaidillah ibnu Syihab Az-Zuhri, seorang tani’in yang ahli dalam urusan fiqh dan hadits.

Tokoh- tokoh hadits yang muncul pada abad kedua hijrah ini antara lain : Imam Malik, Yahya ibnu Said Al-Qaththan, Waqi’ ibnu Jarrah, Sufyan As-Tsaury, Ibnu Uyainah, Syu’bah ibnu Hajjaj, Abu Hanifah, Asy-syafi’i dan lain- lain.

Hadits pada periode V (Abad 111 H = Masa mentashihkan hadits)
Pada masa ini pembukuan hadits memiliki 3 (tiga) sistem pembukuan, yaitu :
  1. Pengarang menghimpun semua serangan (celaan) yang dilancarkan oleh ulama-ulama kalam kepada pribadi ulama-ulama hadits. Misalnya : si pulan itu dituduh tidak adil atau tidak dlabith jadi tidak dapat diterima haditsnya, atau ditunjukkan kepada hadits-haditsnya sendiri, misalnya dikatakan hadits-hadits itu mengandung khurafat atau bertentangan dengan dalil lain yang labih kuat dan sebagainya. Diantara ulama yang mengarang dengan sistem ini adalah Ibnu Qataibah (w. 234 H) dan Ali bin Al-Madani (w. 234 H).
  2. Pengarang menghimpun hadits secara “Musnad”, yakni menghimpun hadits-hadits Nabi dari tiap-tiap sahabat tanpa memperhatikan masalah-masalahnya (isi haditsnya) dan kualitasnya (shahih, hasan dan dhaif), misalnya semua hadits Nabi yang melalui Aisyah dikelompokkan dengan judul “hadits-hadits Aisyah” meskipun menurut hadits-hadits yang berbeda-beda masalahnya. Diantara kitab-kitab hadits yang disusun dengan cara seperti ini yaitu Musnad Ahmad bin Hanbal (104 - 241 H) dan Musnad Ahmad ibnu Rahawih (161 - 238 H).
  3. Pengarang menghimpun hadits-hadits secara bab perbab seperti kitab fiqh dan tiap-tiap bab memuat hadits-hadits yang sama maudlu’nya (masalahnya), misalnya bab shalat, bab zakat dan sebagainya. Dan dalam hal ini ada dua macam yaitu : Pertama, Hanya menghimpunkan hadits-hadits shahih saja. Kedua, Disamping memuat hadits-hadits shahih juga memuat hadits-hadits hasan dan dhaif.
Hadits pada periode VI (Awal-awal IV H sampai 656 H = Masa tahdzib, istidrak, istikhraj, menyusun jawami, zawaid dan athraf)
Ulama-ulama hadits pada abad kedua dan ketiga disebut “Ulama Mutaqaddimin”, yang mengumpulkan hadits semata-mata berperang. Setelah abad keriga berlalu, bangkitlah pujangga-pujangga abad keempat dan seterusnya yang disebut “Ulama Mutaakhirin”, kebanyakan hadits yang mereka kumpulkan adalah petikan atau kutipan dari kitab-kitab mutaqaddimin itu, sedikit saja dari padanya dikumpulkan dari usaha mencari sendiri kepada para penghafalnya.

Kalau pada abad ketiga seperti Bukhari, Muslim dan Imam-imam lain telah berhasil menghimpun sejumlah hadits-hadits shahih, pada abad keempat para ulama telah berhasil pula mengumpulkan hadits-hadits shahih yang tidak terdapat di dalam kitab-kitab shahih sebelumnya.

Usaha-usaha ulama hadits yang terpenting dalam periode ini ialah :
  1. Mengumpulkan hadits-hadits Bukhari Muslim dalam sebuah kitab.
  2. Mengumpulkan hadits-hadits enam.
  3. Mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam berbagai kitab hadits.
  4. Mengumpulkan hadits-hadits hukum dan menyusun kitab-kitab Athraf. Diantara kitab-kitab Athraf ini antara lain :
  • Athrafush-Shahihaini oleh Ibrahim Ad-Dimasqy (400 H).
  • Athrafush-Sunanil Arba’ah oleh Ibnu Asakir Ad-Dimasqy (571 H).
  • Athraful-Kutubis Sittah oleh Muhammad ibnu Tahir Al-Maqdisy (507 H) dan lain sebagainya.
Hadits dalam periode VII (656 H - sekarang)
Setelah kota Baghdad jatuh pada tahun 656 H ke tangan bangsa Tartar, maka pindahlah pemerintahan Abbasiyah ini ke Kairo (Mesir), tetapi khalifahnya hanya sebagai simbol saja. Sementara yang berkuasa pada hakikatnya adalah raja Mesir dari Mamalik. Pada abad VII H, Turki telah dapat menguasai daerah-daerah bagian Barat (Maroko) dan sebagainya.

Islam ketika itu tidak lagi meneliti tentang pribadi-pribadi hadits (sanad), bahkan sanad itu dipelajari atau dibaca sekedar untuk mendapat berkahnya (tabarruk). Kendati demikian keadaannya, namun masih ada beberapa ulama yang sanggup dan berani melawat ke daearah-daerah Islam dan tempat-tempat yang mereka kunjungi, mereka memberikan imla’ul hadits.
Pada masa ini ada tiga daerah yang menjadi perhatian umat Islam tehadap sunnah, yaitu Mesir, India dan Saudi Arabia.

Referensi:
Hanafiah, M. Muhari, M. Pengantar Study Sumber Hukum Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Martapura. Banjarmasin. 2007.
Read more ...»

Aqiqah

On 0 komentar

Aqiqah berasal dari kata "Aqq" yang berarti memutus dan melubangi, dan ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong, dan dikatakan juga bahwa ia adalah rambut yang dibawa si bayi ketika lahir. Adapun maknanya secara syari'at adalah hewan yang disembelih untuk menebus bayi yang dilahirkan.

Hukum aqiqah menurut pendapat yang paling kuat adalah sunnah muakkadat, dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama, berdasarkan anjuran Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan praktek langsung beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam. "Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (Maksudnya cukur rambutnya)." (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Perkataannya Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: "maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan)," adalah perintah, namun bukan bersifat wajib, karena ada sabdanya yang memalingkan dari kewajiban yaitu: "Barangsiapa di antara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, maka silakan lakukan." (HR: Ahmad, Abu Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: "ingin menyembelihkan,.." merupakan dalil yang memalingkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Hikmah Aqiqah
Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di sebuah situs memiliki beberapa hikmah diantaranya:
  1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alahi wa sallam dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim alaihissalam tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail alaihissalam.

  2. Dalam aqiqah ini mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu, dan ini sesuai dengan makna hadits, yang artinya: "Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya." Sehingga Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih terlindung dari gangguan syaithan yang sering mengganggu anak-anak. Hal inilah yang dimaksud oleh Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah "bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya".

  3. Aqiqah merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: "Dia tergadai dari memberikan Syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)."

  4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sekaligus sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan lahirnya sang anak.

  5. Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syari'at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

  6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Hewan Sembelihannya
Hewan yang dibolehkan disembelih untuk aqiqah adalah sama seperti hewan yang dibolehkan disembelih untuk kurban, dari sisi usia dan kriteria.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh dalam aqiqah ini hewan yang picak, kurus, patah tulang, dan sakit. Imam Asy-Syafi'iy berkata: Dan harus dihindari dalam hewan aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan dalam qurban.

Ibnu Abdul Barr berkata: Para ulama telah ijma bahwa di dalam aqiqah ini tidak diperbolehkan apa yang tidak diperbolehkan di dalam udhhiyah, (harus) dari Al Azwaj Ats Tsamaniyyah (kambing, domba, sapi dan unta), kecuali pendapat yang ganjil yang tidak dianggap.

Namun di dalam aqiqah tidak diperbolehkan berserikat (patungan, urunan) sebagaimana dalam udhhiyah, baik kambing/domba, atau sapi atau unta. Sehingga bila seseorang aqiqah dengan sapi atau unta, itu hanya cukup bagi satu orang saja, tidak boleh bagi tujuh orang.

Kadar Jumlah Hewan
Kadar aqiqah yang mencukupi adalah satu ekor baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas rahimahulloh: "Sesungguh-nya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengaqiqahi Hasan dan Husain satu domba satu domba." (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Ini adalah kadar cukup dan boleh, namun yang lebih utama adalah mengaqiqahi anak laki-laki dengan dua ekor, ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini:
  1. Ummu Kurz Al Ka'biyyah berkata, yang artinya: "Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba dan dari anak perempuan satu ekor." (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

  2. Dari Aisyah Radhiallaahu anha berkata, yang artinya: "Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor domba yang sepadan dan dari anak perempuan satu ekor." (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Dan karena kebahagian dengan mendapatkan anak laki-laki adalah berlipat dari dilahirkannya anak perempuan, dan dikarenakan laki-laki adalah dua kali lipat wanita dalam banyak hal.

Waktu Pelaksanaannya
Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: "Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi nama." (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Dan bila tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan pada hari ke empat belas, dan bila tidak bisa, maka pada hari ke dua puluh satu, ini berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: "Hewan aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh satu." (Hadits hasan riwayat Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga minggu masih tidak mampu maka kapan saja pelaksanaannya di kala sudah mampu, karena pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan ke dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib. Dan boleh juga melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Bayi yang meninggal dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun bayi yang keguguran dengan syarat sudah berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari'at yang ditekan kepada ayah si bayi. Namun bila seseorang yang belum di sembelihkan hewan aqiqah oleh orang tuanya hingga ia besar, maka dia bisa menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal itu tidak apa-apa menurut saya, wallahu 'Alam.

Pembagian daging Aqiqah
Adapun dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan mengumpulkan kerabat dan tetangga untuk menyantap makanan daging aqiqah yang sudah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan boleh mengundang teman-teman dan kerabat untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Ibnu Bazz berkata: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya dan memasaknya kemudian mengundang orang yang engkau lihat pantas diundang dari kalangan kerabat, tetangga, teman-teman seiman dan sebagian orang faqir untuk menyantapnya, dan hal serupa dikatakan oleh Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Aqiqah
Read more ...»

Cara Menginstall Template Blogspot

On 0 komentar

Pertama, download tempeletnya dulu. Untuk mendownloadnya bisa download di http://www.zoomtemplate.com.

Kedua, Setelah download tempeletnya, log in ke blog kamu. Setelah log in, masuk ke layout atau rancangan.



Ketiga, Dibagian layout, klik "Edit HTML"



Keempat, Sebelum mengganti tempelet, sebaiknya di back up dulu tempelet yang sudah ada.



Fungsinya, kalau kita sudah bosan dengan tempelet yang baru atau rindu dengan tampilan blok yang lama, tinggal diupload kembali.

Kelima dan Keenam, klik browser untuk mengambil tempelet yang baru saja di download dari direktori di komputer kamu.



Selanjutnya klik upload (unggah).



Terakhir, bila muncul peringatan seperti gambar dibawah ini. Klik Keep Witgeds untuk menyimpan witged kamu, atau klik delete untuk menghapusnya.



Paling terakhir ya selesai.

Selamat untuk berexperimen.

Referensi:
http://www.zoomtemplate.com/2008/09/faqs.html
Read more ...»

CINTA

On 0 komentar

Emmm,, nulis apa ya kali ini,,, bingung nich,,,, coz gue thu orangnya ngga' ahli dalam hal tulis menulis. Setau gue untuk nulis sesuatu apapun jenisnya, mo artikel kek, mo puisi kek, mo novel kek pukoknya yang segala macam berkaitan ama hal tulis menuliskan perlu yang namanya ide, buat munculin ide diperluin yang namanya insprirasi. Nah, inspirasi gue perlu inspirasi, tapi apa donk? jadi tambah bingung nich.

emmm,, emm,, emm,, (lagi mikir nich,,,,???

"TING" dapat,,, dari pada bingung-bingung mendingan kita bicarain tentang cinta,,, hehe

Yap,, CINTA emang topik yang pernah bakal habis buat jadi bahan pembicaraan (menurut gue sich). Ngomong-ngomong maslah CINTA bagi gue CINTA itu ngga' ada definisi pastinya, mungkin yang jadi penyebabnya CINTA itu sendiri.

Lho kok bisa, gimana tuh CINTA gga' bisa didefiniin gara-gara CINTA itu sendiri?

Yap,, CINTA ngga' bisa didefinisiin karena cinta itu sendari bersifat "ABSTRAK", sesuatu yang sifatnya abstrak bakal sulit ngedefinisiinnya, beda dengan sesuatu yang sifatnya kongkrit. Kita ambil contoh: kita tau definisi ayah, ibu, gunung, karena mereka kongkri, kita bisa ngedefinisiin tentang virus, kuman dan bakteri karena bisa ngeliatnya dengan alat bantu mikroskopik. Tapi CINTA ngga' bisa diliat bahkan dengan alat bantu apapun.

Lalu apa sich definisi CINTA bagi lho sendiri?

Jujur kalo gue ditanya tentang CINTA, gue sendiri masih bingung sendiri. Tapi gue punya seorang tokoh Sufi beraliran MAHABBAH, namanya Rabiatul Al-Adawiyah. Suatu ketika beliau pernah berucap disaat beribadah yang kurang lebih seperti ini (seingat geu):

"Ya Allah, seandainya segala ibadah yang aku kerjakan karena menginginkan sorga-Mu, maka tutuplah PINTU Sorga-Mu rapat-rapat untuk ku agar aku tidak dapat masuk ke dalamnya dan biarkanlah terbuka lebar untuk umat-Mu yang lain.

Ya Allah, jika aku beribadah karena takut neraka-Mu, maka masukkanlah aku ke dalam neraka-Mu dan lebarkanlah tubuhku agar umat-Mu yang lain tidak mendapat tempat di neraka-Mu.

"Tapi, keridhoan-Mu engkaulah, ya Allah yang utama bagiku".

Coba pahami kutipan di atas, Sayyidina Rabiah bena-benar mengikhlaskan diri dalam beribadah, ngga' perduli berapa pahala yang didapat dari hasil upah ibadahnya, ngga' perduli pula surga ato neraka yang akan didapat. Yang beliau pentingkan cuma keridhoan Allah, itulah yang paling penting bagi seorang Rabiatul Al-Adawiyah.

Logikanya seperti ini:

Allah adalah sang pemilik surga N' neraka dan kita tidak berhak menentukan sendiri mau masuk ke mana.

Gue mau ke neraka ah,,
Gue ke surga aja dech,,, (NGGA' BISA SEPERTI ITU BROW"

Ingat men bukan kita yang nentuin, tapi itu semua hak mutlak Allah SWT.

Kok pembahasannya sedikit agak melenceng ke surga N' neraka segala, bukannya kita lagi ngebahas soal CINTA?

Sorry-sorry keterusan, he,, he,,

O, ke, like as I say,, logikanya, gue ulangin,,

Kalo Rabiatul Al-Adawiyah mendapatkan ridhonya Allah, sudah dapat dipastiin ke mana beliau di tempatkan oleh Allah. Yap,, surga, itulah tempat beliau walaupun beliau tidak menginginkan surga.

Why?

Coz Allah ridho, dan Rabiah cinta kepada Allah, begitu pula sebaliknya. Ingat SURGA cuma buat orang-orang yang mendapat ridho Allah, pahala tidak bisa menjamin kita masuk surga.

Back to love;

Dari kutipan di atas gue ambil kesimpulan seperti ini. Cinta adalah keridhoan, keikhlasan dan mencoba untuk mendapatkan keridhoaan orang lain. Inilah CINTA bagi gue.

Jadi CINTA itu kerelaan ya, lalu bagai mana kalo ada orang yag bilang kayak gini, "ku relakan kehormatanku asal kau CINTA padaku?

Wah,, guys ini namanya bukan CINTA, kerelaan ato keridhoaan yang dimaksud bukan seperti itu. Itu sinh namanya PEMBODOHAN CINTA, PEMANIPULASIAN CINTA, PERUSAKAN CINTA, PENODAAN CINTA.

Ingat brow CINTA itu berusaha mendapatkan keridhoan (kerelaan) orang lain. Untuk mendapat itu semua ngga' gampang brow, ada prosesnya:

Paling tidak untuk mendapatkan cinta dari orang lain, lho harus bersifat amanah, jangan suka boong, sopan santun kepada siapa aja, intinya lho harus jadi orang baik.

So, gimana caranya membina hubungan dengan pacar kita?

Udah gue tebak dari awal kalo pembahasannya bakal ngarah ke wilayah ini. Jujur gue cuma punya sedikit pengalaman pacar memacar, pemahaman CINTA gue lebih mengarah pada CINTA UNIVERSAL, CINTA yang dapat diterapkan secara umum. Tapi, konsep kerelaan bin keridhoaan bisa diterapkan dalam hubungan lho ama pacar lho.

Lho jujur, percaya ama diri lho sendiri ama percaya ama pacar lho. Dan lho harus punya tujuan dalam berpacaran. Kalo tujuan lho cuma buat main-main mending stop aja dech dulu pacarannya, coz setiap kerjaan ada tujuan N' muaranya, kalo tujuan pacaran lho cuma main-main muaranya bakalan ancur.

Jangan pernah berharap apapun dari pacar lho, harapan lho harus objektif, lho harus berhadarap bahwa hubungan yang sedang lho bina berakhir sesuai komitmen lho berdua. Untuk ngejalanin itu lho berdua harus saling meridhokan diri.

Sorry kalo konsep pacarannya ngga' bisa dipahamin, gue bukan ahlinya dalam hal pacar memacar, sekali lagi pengalaman gue cuma sedikit.

Saran gue yang lebih baik adalah berusahalah buat ngedapetin CINTA semua orang. Maka negeri ini bakal menjadi, negeri CINTA DAMAI.

Ikhlaskan dirimu dan Ikhlaskan Orang lain.

Sekian...

See This Site= http://anshori.t35.com
Read more ...»

Buku Tamu

Most Popular Article